Sebagian plastik itu masih tertampung dalam karung-karung besar dan menjadi gundukan. Bagi sebagian besar orang, pemandangan itu lebih banyak dihindari. Karena, kotor dan tetap menjadi sampah.
Namun, di tangan Arief Yulianto, gunungan limbah plastik yang memuakkan itu justru lahir ide kreatif. Saban hari, pria berusia 40 tahun itu berjibaku di tengah kepulan uap bengkel kerjanya.
Wajahnya yang legam sesekali disapu peluh. Di hadapannya, sebuah instalasi tabung besi raksasa rakitan mandiri bergemuruh pelan.
Dari ujung pipa kecilnya, menetes cairan berwarna kekuningan yang kental. Pekat dan berbau tajam. Itulah solar alternatif, bahan bakar yang lahir dari rahim limbah yang semula dikutuk masyarakat (sampah plastik).
"Gemas saya lihat sampah plastik menumpuk di mana-mana, tidak ada habisnya. Dibakar jadi polusi, ditimbun butuh ratusan tahun untuk hancur," kenang Arief, kepada awak media, belum lama ini (5/6).
Ketukan rasa prihatin itulah yang membawanya masuk ke dalam riset kecil-kecilan. Menariknya, hal itu ia lakukan secara autodidaktik. "Awalnya cuma coba-coba, saja," akunya.
Melalui proses yang disebut pirolisis. Sebuah teknik memanaskan plastik tanpa oksigen dalam suhu ekstrem hingga mencair dan menguap. Uap plastik yang didinginkan kembali lewat pipa-pipa penyulingan itu mengembun dan menjadi bahan bakar cair. (red)
.jpg)

"Terimakasih atas komentar yang anda tulis, dalam waktu 2x24 jam kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk merespont, jika ingin segera/fashrespon silahkan langsung menguhubungi Admin kami di +6285702464677"