NetOnline ~ Di balik tumpukan sampah Pasar Keputran, ada denyut ekonomi yang menghidupi puluhan keluarga. Inilah potret garis kemiskinan yang berjumpa dengan peluang: “Sampahmu, Rejeki Ku”.
Dari Buangan Jadi Penghasilan
Program ini dijalankan kelompok pemulung dan ibu-ibu KSM di Surabaya sejak awal 2026. Setiap pagi mereka memilah sampah organik dan anorganik dari pasar dan permukiman sekitar. Plastik, kardus, dan botol dijual ke pengepul. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dan maggot untuk pakan ternak.
“Pendapatan saya naik dari Rp40 ribu jadi Rp120 ribu per hari. Anak saya bisa sekolah tanpa putus,” kata Siti, 42 tahun, salah satu anggota kelompok.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Selain menambah penghasilan, program ini mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Benowo hingga 2 ton per minggu. Pemerintah Kota Surabaya melalui DLH memberikan pelatihan, gerobak pilah, dan pendampingan manajemen kelompok.
Kepala DLH Bondowoso menyebut model ini sebagai solusi dua sisi: menekan kemiskinan urban sekaligus menekan beban lingkungan.
Tantangan di Lapangan
Minimnya modal awal, fluktuasi harga barang bekas, dan stigma masyarakat masih jadi kendala. Kelompok berharap ada akses KUR dan kemitraan dengan industri daur ulang agar usaha lebih stabil.
Harapan ke Depan
“Kami tidak minta dikasihani. Kami hanya butuh akses dan pasar. Sampah yang orang buang, kami jadikan kerjaan layak,” ujar Ketua KSM.
Program “Sampahmu Rejeki Ku” kini mulai direplikasi di 3 kecamatan lain. Potret garis kemiskinan di Surabaya perlahan berubah, dari sekadar bertahan hidup menjadi menciptakan nilai dari yang dibuang orang lain. (Red)
.jpg)


"Terimakasih atas komentar yang anda tulis, dalam waktu 2x24 jam kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk merespont, jika ingin segera/fashrespon silahkan langsung menguhubungi Admin kami di +6285702464677"